AKTA NOTARIS: Nomor 08, Tanggal 27 November 2012 RA.CHANDRA DEWI KUSUMAWATI,SH Informasi Pendaftaran Hub.0878 384 63732

Senin, 12 November 2012

Pendidikan Terhadap Anak



Alhamdulillah ‘alla kulli hal. Dengan karunia dari Allah Ta’ala yang telah memberikan amanah kepada kita berupa keturunan yang akan melanjutkan tongkat estafet kita di dalam melaksanakan apa yang menjadi tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia, yaitu mewujudkan penghambaan kepada-Nya semata dan tidak menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan dalam beribadah kepada-Nya.
Kewajiban mendidik anak merupakan tanggung jawab kita semua,terutama kita sebagai orang tua dari anak tersebut. Pendidikan pertama yang kita berikan adalah masalah agama islam yang mulia ini secara kaffah, dengan berdasarkan al kitab dan sunnah rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bukan berdasarkan adat-adat dan segala sesuatu yang disandarkan kepada islam padahal bukan dari islam. Kewajiban mendidik anak ini berlangsung terus sepanjang hayat dan tidak berhenti kecuali datangnya kematian, hal ini disebabkan karena manusia sangat berhajat kepada ilmu agama islam ini melebihi hajatnya kepada makanan dan minuman. Rata-rata manusia makan dalam sehari dua sampai tiga kali, akan tetapi kebutuhan kepada ilmu sebanyak bilangan nafasnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
         
Wahai orang-orng yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yng bahan bakarnya manusia dan batu….( Qs at-Tahrim: 6).
Ayat yang mulia ini menjadi dasar pendidikan di dalam keluarga orang-orang yang beriman. Wajib hukumnya bagi setiap orang tua terutama bapak, untuk memelihara dan menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan ilmu, amal dan dakwah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
                
Demi masa. Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan mereka saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran”. (Qs al-‘Ashr:1-3).
Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan masa/zaman bahwa sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian, kecuali :
Pertama : Orang-orang yang beriman. Dan iman itu dengan ilmu, oleh karena itu Allah memulai dengan ilmu sebelum iman:
     
Maka ketahuilah! Sesungguhnya tidak illah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah”. (Qs Muhammad : 19).
Fa’lam yang terjemahannya “ketahuilah” yang dimaksud adalah ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Bukhari di Shahihnya.
Kedua : Amal shalih. Pada hakekatnya amal adalah buah dari ilmu, barangsiapa mengamalkan (sesuatu) tanpa ilmu maka ia menyerupai orang-orang Nashrani, sebaliknya barangsiapa berilmu tetapi tidak mengamalkannya maka ia menyerupai orang-orang Yahudi.
Ketiga : saling berwasiat tentang kebenaran adalah dakwah.
Keempat: Saling berwasiat tentang kesabaran, yakni sabar dalam menjalani ketiga hal yang tersebut di atas. Karena sabar itu ada tiga macam, sabar dalam taat dan taqwa kepada Allah, sabar dalam menahan diri dari maksiat kepada Allah dan sabar dalam menerima ketentuan-ketentuan Allah terhadap dirinya.
Dalam mendidik anak-anak haruslah mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Allh Ta’ala berfirman:
                 
Sungguh bagi kamu pada diri Rasulullah uswah (contoh) yang baik bagi orang yang yakin akan berjumpa Allah dan (yakin) akan hari akhir dan banyak mengingat Allah”. (Qs al- Ahzab: 21).
         
Dan apa-apa yang Rasul berikan kepada kamu maka terimalah. Dan apa-apa yang ia (Rasul) larang kamu dari (mengerjakan)nya, maka tinggalkanlah”. (Qs al- Hasyr:7).
Dalam ayat yang kita sebutkan di atas terdapat faedah yang bisa kita ambil , yaitu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan uswah bagi orang-orang yang beriman dan salah satu uswah beliau adalah bagaimana cara mendidik anak di dalam Islam. Demikian pula dalam ayat yang kedua Allah memerintahkan kepada kita untuk menerima apa-apa yang datang dari Rasul baik perintah atau larangan, dan salah satu yang datang dari Rasul ialah bagaimana cara beliau mendidik anak dengan perkatan dan perbuatan.
Kemudian dalam sabdanya beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu’anha berkata :” Sesungguhnya akhlak Nabi Allah adalah Al-Qur’an”. (Riwayat Muslim).
Akhlak Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, ini adalah perkataan yang sangat agung dan mulia yang keluar dari seorang yang sangat dekat dengan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dan menjadi orang yang sangat beliau cintai yaitu Aisyah radhiyallahu’anha. Adapun maknanya bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam mengamalkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Oleh karena itu seseorang tidak mungkin dapat mengamalkan Al-Qur’an tanpa mencontoh kepada Beliau. Dan seseorang tidak mungkin berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an tanpa mencontoh kepada beliau. Mendidik anak dengan mencontoh Rasul berarti mendidik anak dengan pendidikan Al-Qur’an.
Untuk melancarkan jalan kita dalam mendidik anak-anak di dalam Islam, maka kita harus melihat dasar yang sangat penting bagaimana Beliau Shalallahu’alaihi wa sallam memberikan contoh kepada kita dalam mendidik anak:
Pertama : Pendidikan Beliau Shalallahu’alaihi wa sallam berdasarkan dua wahyu dari Rabbul ‘Alamin yaitu wahyu Al-Qur’an dan wahyu As-Sunnah. Firman Allah Ta’ala :
             
Dan ikutilah apa-apa yang diwahyukan kepada engkau (hai Muhammad) dari Rabbmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”. (Qs al-Ahzab : 2).
          
Dan tidaklah dia(Muhammad) berbicara dengan hawa nafsunya. Tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya”. (Qs an-Najm: 3-4).
Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Amma ba’du! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan sejelek-jelek urusan/perkara adalah yang muhdats (yang baru diada-adakan) dan setiap bid’ah itu sesat”. (Riwayat Muslim juz 3 hal 11).
Kedua : Bahwa pendidikan Beliau Shalallahu’alihi wa sallam menjadikan manusia sesuai untuk apakah Allah menciptakan manusia, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
      
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Qs adz-Dzaariyaat:56).
Sedangkan arti ibadah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di muqodimah kitabnya Al Ubudiyyah,” Ibadah adalah satu nama yang mencakup sesuatu yang Allah cintai dan ridhai dari segala perkataan dan perbuatan yang bathin dan yang zhahir, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, tawakkal kepada Allah, dan lain-lain yang semuanya termasuk ibadah kepada Allah.
Dalam tulisan ini akan kita bawakan salah satu hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam yang berkaitan dengan pendidikan anak-anak. “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu dia berkata :” Pada suatu hari aku berada di belakang Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Wahai anak! Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepada engkau beberapa kalimat, “Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila kmu meminta sesuatu maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah! Bahwasanya semua umat ini, kalau seandainya mereka bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu, dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan menimpa dirimu. Pena-pena telah diangkat dan telah kering lembaran (catatan)”. (HR At- Tirmidzi dan dia berkata: “hadits hasan shahih”). Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya kamu akan dapati Dia dihadapanmu. Kenalilah Allah ketika kamu dalam keadaan senang, niscaya Dia akan mengenalimu ketika kamu dalam keadaan sulit. Dan ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan luput darimu, tidak akan pernah menimpamu dan segala sesuatu yang telah ditetapkan menimpamu, tidak akan pernah luput darimu. Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan kelapangan itu bersama kesulitan dan bersama kesukaran itu terdapat kemudahan”.
Diantara fiqih hadits yang mulia ini ialah :
  1. Kewajiban mendidik anak-anak tentang urusan agama mereka sesuai dengan apa-apa yang Allah telah syari’atkan kepada manusia melalui lesan nabi-Nya yang mulia shalallahu’alaihi wa sallam.
  2. Anak-anak diajak berbicara dan berkomunikasi dengan baik sama seperti orang dewasa dengan cara yang mudah dipahami oleh mereka.
  3. Mengajarkan kepada mereka segala sesuatu yang bermanfaat untuk dunia dan akherat mereka.
  4. Mengajarkan kepada mereka perintah-perintah Allah, larangan-larangan-Nya dan hak-hak-Nya agar supaya mereka memelihara dan menjaganya meskipun mereka belum terkena taklif (kewajiban). Akan tetapi kewajiban ini dipikul oleh bapak mereka dan ahli ilmu secara umum.
  5. Dari hadits yang mulia ini kita pun mengetahui bahwa kepada anak-anak diajarkan tentang halal dan haram, perintah dan larangan dan seterusnya meskipun mereka tidak berdosa apabila melanggarnya.
  6. Dari hadits yang mulia ini pun kita mengetahui bahwa anak-anak apabila mengerjakan amal taat mereka diberi pahala sunat.
  7. Kepada mereka diajarkan tentang tauhid dan aqidah shahihah (yang benar). Menarik perhatian kita ketika Nabi yang mulia shalallahu’alaihi wa sallam mengajarkan kepada anak yang masih kecil yang bernama Ibnu Abbas tentang tauhid ‘ubudiyyah, “Wahai anak! Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah”.
  8. Dan kepada mereka diajarkan tentang kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu. Dan bahwa pertolongan itu akan datang sesudah ada kesabaran.
  9. Dan mereka pun diajarkan tentang kesusahan dan kesempitan yang selalu diiringi dengan kemudahan dan kelapangan. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran. Sesungguhnya kelapangan itu bersama kesusahan. Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan”.

Maraji’
  1. Menanti buah hati dan hadiah untuk yang dinanti. Abdul Hakim bin Amir Abdat. Maktabah Muawiyah bin Abi Sufyan. Jakarta cetakan V 2009.
  2. Arbaun an-Nawawi. Imam Nawawi. Maktabah al-Ghuroba’.cetakan III tahun 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Free Earth Cursors at www.totallyfreecursors.com